Manhaj Yakin dalam Tarbiyah Ruhani:
Reinterpretasi Tashawwuf Amali Hadratussyaikh KH Achmad Asrori Al Ishaqy di Era Distraksi
Oleh : Ust Ach. Mahbub, M.Ag
Di tengah banjir konten "self-healing" (proses penyembuhan diri dari luka batin) dan "quote" (kutipan) tawakkal yang seringkali berhenti di feed Instagram, Hadratussyaikh KH Achmad Asrori Al Ishaqy r.a justru menawarkan sesuatu yang lebih dalam, yakni Yakin.
Yakin bukan sekadar "percaya", tapi menyaksikan dengan mata batin. Ini fondasi yang bikin seorang Murabbi Ruh beda dari sekadar motivator.
Bagi Kyai Asrori, perbedaan orang yang “stuck” (terjebak) secara ruhani dengan yang wushul ke Allah itu cuma satu: kualitas yakinnya. Banyak yang beriman, tapi sedikit yang tembus ke derajat yakin. Karena itu, Hadlrotus Syaikh dalam kesempatan pengajian, sering mengingatkan anak-muridnya: wong thoriqoh ojok mandek nak barokah: "seng penting barokah" ojok. Kedah: nufudzul 'azimah (tembus tekadnya sampai ke tujuan)
Dengan pengertian lain, Jangan Terjebak di "Barakah". Kiai Asrori mengingatkan agar murid thariqah tidak berhenti hanya pada mencari keberkahan (seperti ketenangan hidup, lancar rezeki, atau karomah). Barakah itu baik, tapi itu baru "hadiah" di pinggir jalan.
Nufudzul 'Azimah adalah motor penggerak agar seorang hamba tidak puas sebelum benar-benar sampai (makrifat) kepada Allah. Ibarat anak panah yang meluncur, ia harus memiliki daya tembus (nufudz) yang kuat agar tidak berhenti di tengah jalan karena godaan hal-hal duniawi atau ukhrawi.
Dalam majlis-majlis, Kyai Asrori sering memberikan gambaran, bahwa banyak orang Islam yang memiliki Iman, tetapi sedikit yang mencapai derajat Yakin. Mereka termasuk "minal maghrurin", orang-orang yang tertipu.
Kyai Asrori dalam karyanya, al Muntakhobat, vol. 1, menjelaskan tema tazayyud wa taroqqi "peningkatan kualitas batin Rasulullah saw". Ini artinya, seorang hamba yang menjalani perjalanan panjang menuju Allah swt, tidak boleh stagnan atau merasa cukup pada satu keadaan tingkatan saja, apalagi terjadi penurunan kualitas karena semakin jauh dari cahaya ketuhanan.
Kyai Asrori mencoba membangun struktur kebiasaan lebih ahsan dari yang tadinya cenderung "stuck" dan merasa cukup pada amal baiknya menuju kesungguhan untuk betul-betul meningkatkan kualitas batinnya kepada Allah, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah saw.
Hadlrotus Syaikh r.a kemudian mengutip hadis Nabi saw:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Sungguh, terkadang tertutup (terselimuti) hatiku, dan sungguh aku beristighfar kepada Allah dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim)
Kata الغين / الغينان dalam bahasa Arab berarti: sesuatu yang menutupi,
kabut tipis, atau
selaput halus yang menutupi kejernihan.
Para ulama menjelaskan bahwa “ghain” pada hati Nabi bukan merupakan dosa. Mustahil para nabi melakukan dosa.
Imam al Nawawi berkata: "Maksud dari pada ghain "terselimuti" bukanlah dosa, tetapi sesuatu seperti kelalaian ringan dari dzikir terus-menerus karena kesibukan mengurus umat, peperangan, maslahat manusia, dan perkara dunia. Lalu beliau menganggap hal itu sebagai sesuatu yang perlu diistighfari.
Dengan kata lain, keadaan yang bagi kita mungkin sudah luar biasa, bagi Rasulullah saw, masih dianggap kurang sempurna.
Seperti orang yang selalu berada di puncak cahaya, sedikit saja turun dari tingkat itu, hatinya sudah terasa terhijab.
Imam al Ghazali menjelaskan, bahwa hati para arifin sangat peka. Sedikit saja perhatian hati berpindah dari Allah menuju selainNya walaupun perkara mubah mereka sudah merasa perlu bertaubat dan beristighfar.
Karena itu para sufi merumuskan satu kaedah umum: Hasanatul Abrar, sayyiatul Muqarrabin
"Kebaikan orang baik (boleh jadi) dalam pandangan orang yang sangat dekat dengan Allah (dianggap) kurang baik (untuk tidak mengatakan: kejelekan)"
Dengan demikian, orang beriman lagi berthariqah harus memiliki keinginan kuat untuk selalu mengalami peningkatan dalam suluknya kepada Allah.
Amal biasa yang baik sudah mulia bagi kebanyakan manusia, tetapi bagi para kekasih Allah, mereka menuntut kesempurnaan adab batin yang lebih tinggi lagi.
Klasifikasi Yakin dalam Perspektif Tasawuf
Kebanyakan orang telah beriman dan dengan ilmunya ia mengetahui Allah, akhirat, surga, neraka, tetapi pengaruhnya pada hati sangat kecil. Mengapa?!
Karena kebanyakan manusia baru berada di tingkat pengetahuan
علم اليقين
Kita sebagai manusia tahu, bahwa neraka itu ada, kematian pasti,
dunia seisinya fana. Namun, pengetahuan itu belum menguasai jiwa.
Seandainya keyakinan itu hidup sempurna dalam hati, perilaku manusia akan berubah total menjadi ke saleh an.
Problem manusia akhir-akhir ini bukan kurang informasi,
tetapi lemahnya transformasi ilmu menjadi yakin.
Oleh sebab itu, Kyai Asrori r.a dalam kitab al Muntakhobat menjelaskan klasifikasi Yakin agar manusia sadar: mengetahui bukanlah tujuan akhir.
Beliau, Hadlrotus Syaikh r.a mengklasifikasikan Yakin menjadi tiga fase. Tiga-tiganya sudah disebut eksplisit dalam Alquran.
1. Ilmul Yaqin: Keyakinan berdasarkan ilmu-dalil/khabar-informasi. Ibarat, yakin ada api karena lihat asap dari jauh atau sekedar mendengar informasi. Sarananya panca indra dan akal.
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ
[QS. Al Takatsur: 5-6]
Semua mukmin bisa beriman, tetapi kualitas keyakinannya berbeda. Orang awam yakin Allah Maha Melihat, tetapi masih mudah bermaksiat saat sendirian. Hal ini dampak dari yakinnya belum berubah menjadi musyahadah batin.
Sedangkan para arifin seolah “melihat” sehingga hatinya selalu merasa dalam pengawasan Allah.
2. Ainul Yaqin: Keyakinan berdasar melihat secara langsung. Ibarat, yakin ada api karena ia melihat cahaya api di depannya. Sarananya kasyf (ketersingkapan) bashirah (mata batin)nya.
ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ
[QS. Al Takatsur: 7]
Manusia pada level ini bukan melihat Allah dengan mata kepala,
tetapi hati tersingkap,
bashirah hidup, kehadiran Allah dominan dalam kesadaran ruhani.
Sebagaimana hadis shahih riwayat Sayyidina Umar Ibn. al Khattab mengenai Ihsan:
“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.”
3. Haqqul Yaqin: Keyakinan berdasar dzauq (rasa), bersentuhan dan merasakan secara langsung. Ibarat, sudah menyentuh api, merasakan panasnya. Sarananya mubasyarah (persentuhan langsung).
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ
[QS. Al Waqi'ah: 95]
Orang yang ada pada level ini, Ia tidak sekadar percaya atau melihat,
tetapi “merasakan bersama Allah.”
Karena itu para sufi merumuskan kaedah: Man lam yadzuq lam ya'rif.
"Siapa yang belum merasakan, belum benar-benar mengenal."
Dzauq bukan khayalan,
bukan emosi kosong,
tetapi pengalaman ruhani akibat proses panjang mujahadah dan tazkiyatun nafs.
Dari ulasan ini, jelas sudah kekhawatiran Kyai Asrori terhadap anak-murid, jamaahnya, bahkan umat secara umum, bahwa ilmu bisa berhenti pada lisan, kitab, perdebatan, atau sekedar hafalan.
Padahal tujuan ilmu adalah melahirkan khusyuk, semakin takut kepada Allah, muraqabah, mahabbah, dan hudhurnya hati untuk menyaksikan kebesaran Allah swt.
Ini sesuai dengan nasehat Hadlrotus Syaikh dalam pengantar Buku Pedoman Kepengurusan sebagai berikut:
Semakin dekat dan tampak kebenaran sabda Nabi saw, mengenai tanda-tanda Hari Akhir (kiyamat):
Makin susah dan berat memegang teguh akidah, keyakinan agama yang benar dan lurus, seperti menggenggam bara api.
Makin berkurang rasa menyayangi dan menghargai diri sendiri, dengan ditandai tidak adanya rasa malu.
Makin banyak mencampuri urusan orang lain, sehingga timbul kesalah pahaman, perpecahan dan permusuhan. Ahli amanah dikhianati, sebaliknya ahli khianat dipercaya, yang dekat menjadi jauh, yang jauh menjadi dekat.
Makin kabur dan suram untuk membedakan antara yang haq dan yang batil, dengan berani membawa nama Allah, nama Rosulullah, dan Agama.
Makin banyak yang membanggakan pikiran, wawasan, dan pandangannya sendiri, seolah-olah yang paling benar secara mutlak.
Makin banyak yang menuhankan hawa nafsu dan kepentingan pribadi kelompok atau golongan.
Persoalan ijtihadiyah, khilafiyah mengenai cabang hukum yang seharusnya untuk saling mengerti, menghargai, memuliakan dan menaungi serta melindungi sesama umat, namun justru disejajarkan dengan persoalan munkar dan dituduh sebagai perkara bidah yang menyesatkan, sehingga berpotensi perpecahan umat, terlebih putusnya tali ukhuwah islamiyyah.
Ilmu dan wawasannya menjadi penghalang datangnya rahasia dan cahaya dari Allah swt, yang mestinya dapat menuntun dan membimbing ke satu titik shidqut tawajjuh (kesungguhan dalam mengabdi dan berkhidmah kepada Allah swt).
Membangun Yakin: Tazkiyah, Shuhbah, dan Husnuzhan
Menembus atau menggapai Hakkul Yaqin, atau minimal pada level Ainul Yaqin tentu ada proses panjang yang harus dilalui. Ada tiga proses pembentukan yakin:
1. Tazkiyyatun Nafs (pembersihan jiwa).
Hati adalah wadah yaqin. Jika kotor, yaqin tidak akan menetap. Allah swt berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
[QS. Al Syams: 9-10].
Selain itu, tazkiyah nafs merupakan misi kerasulan. Allah swt, menegaskan:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَة
"Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah)." [QS. Al Jum'ah: 2].
Menurut Hadlrotus Syaikh r.a, untuk mencapainya harus berbekal dzikir:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
[QS. Al Ra'd: 28].
Al Ghazali menyebut yakin sebagai: Cahaya yang dilemparkan Allah ke hati hamba pilihan.
نُورٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي قَلْبِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِه.
Karena yakin adalah cahaya yang dilemparkan ke kalbu, maka kalbunya harus bersih.
2. Shuhbat al Rijal (berkumpul bersama orang-orang soleh yang penuh keyakinan).
Yakin itu bersifat muta’addi (menular). Perintah Alquran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
[QS. Al Taubah: 119].
"....Beradalah kalian bersama orang-orang yang shaadiq (bersungguh-sungguh)."
Kata yang dipakai menggunakan "مع" yang berarti: bersama. Artinya, menggapai Yakin tidak cukup hanya bermodal mencintai mereka, tetapi harus berkumpul bersama mereka yang memiliki derajat Yakin.
Dalam kesempatan pengajian Hadlrotus Syaikh r.a menyampaikan kaedah umum: مَنْ جَالَسَ جَانَس
Artinya, siapa yang saling duduk bersama, maka ia saling ada kesamaan jenis (sifat-sifat)nya.
Kanjeng Syaikh Abdul Qodir al Jilani r.a, menegaskan:
الْيَقِينُ هُوَ رُوحُ الأَعْمَالِ
Yakin adalah ruhnya amal, dan ia tumbuh dalam komunitas shadiqin.
3. Husn al Zann (berbaik sangka) sebagai pagar.
Prasangka buruk dapat merusak yakin. Allah swt, tegas melarang: اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْض الظَّنِّ إِثْمٌ
[QS. Al Hujurat: 12].
Rasulullah saw menegaskan:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
[HR. Bukhari].
Dalam hadis qudsi dikatakan:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
[HR. Bukhari Muslim].
Ibn ‘Athaillah dalam kitab al Hikam menyatakan, bahwa orang yang senang saat diberi dan sedih saat dicegah, menandakan masih ada sifat thifl (kekanak-kanakan) dalam batinnya.
Ini artinya, anak kecil sifatnya senang saat diberi, marah saat ditolak. Ia belum memahami hikmah.
Sedangkan orang yang matang ruhani, ia melihat pemberian dan penolakan sama-sama dari Allah. Ini tanda yakin mulai matang. Ia mulai memahami, bahwa Allah lebih tahu daripada dirinya sendiri. Sebab tidak semua nikmat adalah kemuliaan,
tidak semua kehilangan adalah kehinaan. Inilah permulaan maqam ridha.
Demikian sedikit pengetahuan yang dapat kami bagikan. Semoga bermanfaat. Aamiin
Para jamaah sekalian, pada dasarnya wadzifah yaumiyyah atau wirid-wirid, ataupun majlis-majlis dzikir yang menjadi warisan Syaikhuna Murabbi Ruhina Kyai Achmad Asrori al Ishaqy r.a bukan sekadar tradisi rutin, tabarrukan, atau sarana kirim doa kepada orang tua saja. Semua itu sebenarnya bagian dari proyek besar tarbiyah ruhani dan pembentukan yakin. Ini yang sering tidak dipahami.
Sebagian orang melihat dzikir hanya sebagai amalan pahala, ritual emosional, atau (sekedar) identitas jamaah.
Padahal dalam manhaj para masyayikh suluk, dzikir adalah alat transformasi batin agar menjadi lebih bersih dari sifat-sifat kebinatangan yang tercela, sehingga seorang salik dapat mudah menggapai keyakinan.
Semoga kita semua ditakdirkan menjadi orang-orang Yakin.
Dengan yakin kita tidak mudah cemas, tidak mudah kagetan, tidak mudah iri, tidak mudah putus asa, tidak mudah marah, dan tidak mudah kehilangan arah.
Senin, 18 Mei 2026