Komp. Multi Sarana Plaza, Blok B No 5, Karangturi, Lumpur, Kec. Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur 61118

081216616559

Urgensi Syiar Agama

Oleh; Ach. Mahbub, M.Ag

 

نحمده سبحانه وتعالى ونشكره، ونتوب إليه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا. الحمد لله الذي جعل تعظيم شعائره من تقوى القلوب، وجعل نصر دينه سببا لعز الامة ورفعتها. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، شهادةً نرجو بها النجاة يوم يقوم الحساب، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، المبعوث رحمةً للعالمين، اللهم صلِّ وسلم وبارك على سيدنا محمدٍ وعلى آله وصحبه وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ التَّقْوَى سَبَبُ الْفَوْزِ وَالنَّجَاحِ، وَهِيَ خَيْرُ الزَّادِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

 

Salah satu tanda orang yang bertakwa adalah mengagungkan syi’ar Allah dan menampakkan keindahan agama-Nya dalam kehidupan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

 

“Demikianlah, dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu adalah tanda dari ketakwaan hati.” [QS. al Hajj: 32].

 

Ayat ini datang setelah penjelasan mengenai ibadah Haji dan Kurban, namun kandungan maknanya umum. Artinya, memberikan kesan bahwa, penghormatan dalam bentuk apapun terhadap simbol dan ajaran Islam –baik dalam bentuk tempat, waktu, maupun amalan-- adalah manifestasi keimanan dan ketakwaan yang bersemayam dalam hati.

 

Syi’ar berasal dari akar kata sya‘ara – yas‘uru, yang artinya mengetahui, memahami atau menandai. Maka syi’ar Islam dapat berarti segala tanda, simbol, dan aktifitas lahiriah yang menampakkan kemuliaan, keagungan, serta identitas agama Islam di tengah manusia. Dengan pengertian demikian, maka menjaga dan menegakkan syi’ar adalah menjaga identitas dan kemuliaan agama itu sendiri. 

 

Menurut al Qurthubi, sya’aa’ir merupakan bentuk jamak dari sya’irah. Wa hiya kulluma ja’ala allahu ‘alamatan li tha’atih wa ‘ibadatih. Yakni, segala sesuatu yang Allah jadikan sebagai tanda untuk ketaatan dan ibadah kepadaNya. Allah swt., berfirman:

 

وَٱلۡبُدۡنَ جَعَلۡنَـٰهَا لَكُم مِّن شَعَـٰۤىِٕرِ ٱللَّهِ لَكُمۡ فِیهَا خَیۡرࣱۖ .

 

“Dan unta-unta itu kami jadikan untukmu sebagai bagian dari syi’ar Allah, yang di dalamnya ada banyak kebaikan-kebaikan bagi kalian.” [QS. al Hajj: 36]

 

Pengorbanan dalam bentuk materi untuk Allah adalah simbol kepatuhan dan pengagungan terhadap syi’arNya. Dengan kata lain, pengorbanan dengan harta, tenaga, maupun waktu untuk agama Allah termasuk bagian dari syi’ar. Dalam ayat yang lain difirmankan:

 

إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَاۤىِٕرِ ٱللَّهِ

 

“sesungguhnya Safa dan Marwa merupakan sebagian syi’ar agama Allah.” [QS. al Baqarah: 158 ].

 

Berikutnya, adalah ayat 158 dalam surat Al-Baqarah juga menegaskan mengenai bentuk syi’ar agama dari aspek fisik, seperti tempat-tempat ibadah; Masjid, menara, pakaian ibadah dan semua simbol Islam termasuk di dalamnya. Ini, sesuai dengan pesan dalam Surat al Hajj: 30, sebagai berikut:

 

ذَ ٰ⁠لِكَۖ وَمَن یُعَظِّمۡ حُرُمَـٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَیۡرࣱ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ

 

“Demikianlah, dan barang siapa mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” [QS. al Hajj: 30[.

 

Kehormatan-kehormatan Allah itu berarti batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar, tidak boleh direndahkan, apalagi dibakar. Ini, memberikan pesan, bahwa segala hal yang dimuliakan dalam pandangan agama wajib diagungkan. Sedangkan syi’ar adalah tanda-tanda pengagungan. Menolong kegiatan keislaman, amar ma’ruf nahi munkar, menjaga akhlak mulia dan ukhuwah di tengah masyarakat merupakan bagian daripada syi’ar agama sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan. 

Rasulullah saw., bersabda:

 

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان.

 

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya — dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

 

Hadits ini mengajarkan bahwa setiap Muslim wajib berperan dalam menegakkan syi’ar agama, minimal dengan hati yang tidak ridha terhadap kemungkaran. Dalam hadis yang lain, riwayat Bukhari, dikatakan:

 

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

 

 “Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah dari Bani Israil tanpa masalah. Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari).

 

Hadis ini juga menjadi dasar pentingnya syi’ar di jalan Allah dengan cara berdakwah, menyampaikan kebenaran, dan menjaga kemurnian risalah Rasulullah saw. Dalam hadis lain dikatakan :

 

صلاة الجماعة تفضل صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة

 

“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan selisih dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Hadis ini secara teks menjelaskan mengenai keutamaan shalat berjamaah daripada shalat sendirian. Tetapi, dapat juga difahami sebagai dalil syi’ar agama. Hadis ini seolah ingin berpesan, bahwa penampakan ibadah secara jamaah adalah syi’ar persatuan dan ukhuwah kebersamaan umat Islam di tengah masyarakat.

 

Kefahaman ayat dalam surat al Hajj: 32 jika dimunasabahkan dengan ayat yang lain, misalkan firman Allah swt., dalam surat Muhammad: 7, maka berarti pengagungan syi’ar agama adalah bentuk pertolongan kepada agama Allah.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

 

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [QS. Muhammad: 7]

 

Mengagungkan syi’ar Allah adalah bukti ketakwaan hati. Sedangkan menolong agama Allah adalah buah dari ketakwaan itu dalam bentuk amal nyata. Kefahaman sesuainya (mafhum muwafiq) begini; Barangsiapa menegakkan syi’ar Allah, sesungguhnya ia telah menolong agama Allah, dan Allah pasti menolongnya di dunia dan akhirat.

 

Dengan pengertian demikian, maka menegakkan syi’ar Islam adalah bentuk nyata menolong agama Allah swt., dan Allah pasti menurunkan pertolongan dan kekuatan kepada mereka yang menolong agamaNya. Sebaliknya, jika syi’ar Islam ditinggalkan, Masjid ditelantarkan, ajaran Islam disembunyikan, maka hilanglah keberkahan dan kekuatan umat.

 

Imam Ibn. Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan: “Mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah berarti memuliakan ibadah-ibadah yang disyariatkan dan menghormati tanda-tanda agama, karena hal itu menunjukkan kebesaran iman dan ketakwaan hati”. Pandangan ini sama dengan pesan Alquran Surat al Hajj: 30 tersebut di atas. 

 

Sedangkan Imam al-Ghazali rahimahullah --dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din-- menjadikan amar ma’ruf nahi munkar sebagai barometer ketetapan cahaya agama di tengah masyarakat. Menurutnya, jika umat Islam berhenti menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, maka hilanglah cahaya agama dari tengah masyarakat. 

 

Dengan demikian, menegakkan syi’ar agama berarti menjaga cahaya Islam tetap menyala di muka bumi.

 

Imam al Syaukani berpandangan, bahwa segala hal yang menjadi bukti atas keberadaan agama adalah syi’ar. Maka menghapus atau meninggalkannya berarti sama saja menghilangkan agama itu sendiri.

 

Kyai Achmad Asrori al Ishaqy –seorang ulama besar thariqah dan pembaharu abad ini-- dalam kaitanya dengan syi’ar agama telah mendendangkan sebuah sya’ir nan indah. Menurutnya; al Dzikru Mathlabu kulli khairin fil anam # wajtima’uhu min afdhali sya’aa’ira fil islam. Dzikir adalah sumber segala kebaikan bagi umat manusia, dan berkumpul untuk berdzikir merupakan satu syi’ar terbaik dalam Islam.

 

Dari pandangan ini, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa menjaga dzikir dan majelis dzikir dapat menjadi sumber datangnya kebaikan-kebaikan. Dengan kata lain, majelis-majelis dzikir selain merupakan syi’ar terbaik agama, adalah sebagai benteng moral dan perisai sosial yang meneguhkan hati kaum muslimin.

 

Marilah kita menjadi hamba yang bangga dengan Islam, menampakkan syi’ar agama dengan penuh adab dan hikmah, serta menolong agama Allah dengan segala kemampuan yang kita miliki. 

Ketahuilah bahwa kemuliaan umat Islam tidak akan kembali kecuali jika umat ini menegakkan syi’ar agamanya, menghidupkan sunnah Nabi saw., dan menolong agama Allah dengan ilmu dan amal. Rasulullah saw., bersabda :

 

من أحيا سنتي فقد أحبني، ومن أحبني كان معي في الجنة

 

“Barangsiapa menghidupkan sunnahku, maka ia mencintaiku. Dan barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga.” (HR. Tirmidzi).

 

Dengan menghidupkan syi’ar Islam itu berarti tanda cinta kepada Rasulullah saw., dan bentuk kesetiaan kepada risalahnya.

 

اللهم اجعلنا من الذين يعظمون شعائرك، وينصرون دينك، ويرفعون راية الإسلام بالحق والحكمة برحمتك يا ارحم الراحمين. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين.